Toward The Goal (Randy Portier)

Kita semua pernah mendengar dan bersinggungan dengan goal, baik dalam kehidupan pribadi maupun  pekerjaan. Setiap orang mempunyai goal yang berbeda-beda. Untuk apa kita bekerja? Untuk mengembangkan diri, untuk mengejar karier, untuk mencari nafkah, untuk mengisi waktu luang, dan lain-lain. Itulah goal. Di pekerjaan kita sering mendengar istilah vision, objective, AST, dan sebagainya. Itu juga adalah goal dalam skala yang berbeda-beda.

Bagaimana cara untuk mencapai goal? Saya akan membahas yang terkait dengan goal di dalam suatu perusahaan. Yang pertama kali harus kita ketahui adalah di mana kita berada saat ini. Ada dua faktor yang perlu dipertimbangkan, yakni faktor eksternal dan internal. Kita harus tahu siapa customer kita, siapa yang akan menggunakan produk kita. Apakah itu konsumen langsung, atasan kita, bawahan kita, rekan kita atau the next process. Apa yang menjadi kebutuhan mereka? Dari sisi internal, kita harus memahami apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita. Setelah kita mengetahui di mana posisi kita saat ini, maka barulah kita bisa menentukan goal-nya. Goal sendiri dapat kita bagi menurut jangka waktu dan cakupannya. Ada goal jangka panjang, menengah, dan pendek. Ada goal untuk corporate, bisnis, dan juga fungsional. Goal berfungsi untuk mengarahkan kita dan goal juga akan menentukan seberapa besar usaha kita dalam mencapainya.

Setelah goal ditentukan, ciptakanlah sistem yang akan membantu kita dalam mencapainya. Goal berguna untuk mendeskripsikan kesuksesan yang ingin kita capai. Sistem berguna untuk mendeskripsikan apa yang harus dilakukan untuk mencapai goal tersebut. Sistem bisa terdiri atas proses-proses terkait yang saling menunjang. Setiap orang punya goal-nya masing-masing, tapi komitmen setiap orang terhadap sebuah sistem adalah kunci sukses dalam pencapaian goal di suatu perusahaan. Gunakanlah goal dalam setiap pengambilan keputusan. Gunakan kerangka berpikir: ‘Apakah ini akan membantu kita dalam mencapai goal?’ Jika kita merasa ragu-ragu, ingat-ingat goal kita, goal akan membantu kita dalam memutuskan sesuatu. Lama-kelamaan setiap keputusan yang kita ambil otomatis akan mengacu pada goal. Terakhir adalah jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada orang lain untuk mendapatkan pandangan lain berdasarkan pengetahuan, wawasan, dan pengalamannya.  Bahkan jika akhirnya goal kita tidak tercapai, setidaknya kehidupan kita sudah diperkaya.

Commitment (by Silvi Darmawi)

Ada banyak pengertian komitmen dari tokoh-tokoh hebat yang menginspirasi. Misalnya saja menurut Jason Bartels, Commitment it’s the little choices everyday that lead to the final result we’re striving for. Sedangkan menurut Abraham Lincoln, Commitment is what transforms a promise into reality.

Pada dasarnya Komitmen adalah tetap dengan setia melakukan apa yang telah kita katakan dalam waktu yang lama, dengan apa pun suasana hati yang kita alami dan tidak ada alasan untuk mengingkarinya, yang dilihat hanyalah tujuan dari komitmen yang telah kita buat.

Jalan terbaik mempersiapakan diri untuk berkomitmen dalam suatu hubungan adalah dengan terus berlatih menjaga komitmen di dalam diri. Percayalah, ketika anda memutuskan untuk berkomitmen, hidup akan memberi suatu jawaban. Hanya butuh waktu 1 detik untuk membuat komitmen, tapi butuh waktu yang cukup panjang untuk bisa mencapai komitmen kita itu. Komitmen harus dibuat dalam semua aspek kehidupan. Komitmen diikuti dengan tanggung jawab dan harus dibuat dengan kesadaran sendiri, tanpa perlu diminta atau dipaksa oleh orang lain. Seperti kupu-kupu yang mengalami proses panjang yang dimulai dari telur, kemudian menetas menjadi ulat dan berubah menjadi kepompong, dan nantinya jika sempurna akan menjadi kupu-kupu dewasa yang cantik.

Sky is the Limit (by Alfons Sindupranata)

Setiap orang pasti pernah mengalami ketika mendapatkan tugas baru dalam pekerjaan yang dirasakan di luar batas kemampuan kita.  Dan ketika hal tersebut terjadi, biasanya kita akan menghadapi kesukaran karena harus menyelesaikan hal yang baru dan belum pernah kita diketahui sebelumnya.

Banyak orang yang kemudian menyerah, panik, atau frustrasi, karena merasa bahwa hal tersebut tidak akan pernah dapat diselesaikan karena mengetahui batasan yang ada dalam diri kita. Yang harus disadari bahwa batasan diri kita tersebut sebenarnya adalah kita sendiri yang menentukan. Apabila kita berhasil menyakini diri bahwa batasan diri PASTI bisa diubah atau ditingkatkan, akhirnya kita bisa mengatasi hal baru tersebut dengan baik. Biasanya manusia pada umumnya akan menghasilkan yang terbaik dari dirinya, menghasilkan sesuatu yang belum pernah dia buat sebelumnya, apabila dihadapkan pada sebuah tantangan yang berbeda dari keadaan dirinya sehari-hari. Tantangan yang baru pasti akan menjadikan diri kita menjadi individu yang lebih baik dan hal itu kemudian akan menjadi asset dirinya sendiri untuk menghadapi hal-hal berikutnya. Secara otomatis batasan dirinya akan naik menjadi lebih tinggi. Sekali lagi, batasan diri bukan sesuatu yang final yang tidak bisa diubah. Setiap tantangan baru pasti bisa diatasi apabila kita bisa mengatasi batasan diri kita sendiri.

To be Genuine (Sugiarto Purnomo)

Menjadi diri sendiri adalah dengan mencoba menggali nilai-nilai yang benar-benar kita punya. Karakter-karakter yang coba kita bangun jadi diri sendiri, tidak imitasi, tidak palsu, dan tidak mengikut orang lain. Sehingga, kita menjadi seorang pemimpin berdasarkan keunikan yang kita miliki.

  1. The importance of being genuine
    Seorang leader yang baik, harus benar-benar bisa mengembangkan

semua keunikan dari dirinya sendiri. Keunikan atau dalam bahasa religiusnya talenta yang Tuhan beri untuk manusia. Setiap orang pasti punya talenta atau keunikan yang berbeda dengan yang lainnya yang bisa dikembangkan secara maksimal dengan gayanya sendiri. Dia tidak bisa serta-merta mengambil gaya orang lain yang belum tentu cocok dengan dirinya. Inilah alasan mengapa genuine merupakan langkah yang utama jika kita mau berhasil, menjadi diri sendiri mengembangkan semua keunikan semua talenta yang sudah Tuhan berikan pada kita.

  1. Discovering Who I Am
    Mungkin teman-teman sudah pernah membaca, mendengar, ataupun bertanya kepada diri sendiri tentang ‘siapa saya’. ‘Saya’ ini merupakan bahasan yang kelihatan mudah, namun menurut saya ini tidak mudah karena harus melakukan pencarian diri sendiri terus menerus.  Luangkanlah waktu untuk mencari nilai-nilai diri kita seperti apa. Keunikan dari diri kita sendiri apa. Kalau kita tidak tahu, tidak memahami tentang diri kita sendiri, maka kita tidak akan bisa maju karena ini adalah hal paling dasar untuk kita mau berkembang.

Langkah berikutnya adalah kita harus tinggalkan masa lalu kita. Masa lalu itu baik hanya untuk sebagai memori saja, sebagai pelajaran, tanpa terjebak di sana dan  harus move on. Lebih baik kita memperkuat, memaksimalkan kekuatan atau strength kita dan mengatur kekurangan kita. Ketakutan utama kita adalah ketika kita tidak mengetahui suatu hal. Tapi ketika kita sudah memahami suatu hal tersebut, kita pasti tahu solusinya.

  1. Dealing With Others
    Kita bisa minta bantuan dari lembaga atau orang yang berkompetensi untuk memberikan insight mengenai kekuatan dan kelemahan kita. Lalu kita refleksikan lagi apakah semuanya itu benar adanya. Kita semua tidak sempurna. Kita tumbuh dan belajar menjadi seorang manusia, sehingga kita harus jujur, terbuka, dan mau menyikapi masalah dengan bijaksana.

Cobalah tidak membandingkan diri kita dengan orang lain. Kalau kita suka membandingkan diri dengan orang lain, kita tidak akan pernah puas dan tidak akan pernah merasa bersyukur. Berhentilah untuk merasa kuatir akan pemikiran orang lain. Ketika kita yakin apa yang kita lakukan baik yang benar, tidak usah menghiraukan pendapat orang lain. Kalau kita selalu mengharapkan orang untuk respect dan menghargai kita, itu malah akan menghambat personal development kita. Orang lain boleh memberkan inspirasi, namun selebihnya kita yang menentukan.

Tinggalkan orang yang mulutnya pahit karena mereka tidak baik bagi pertumbuhan diri kita. Kita harus bisa membedakan kalimat-kalimat yang intimidatif, yang sarkastik, kalimat iri hati, atau kritik yang membangun.

  1. Calibrating Your True self
    Bagaimana kita menumbuhkembangkan diri kita sehingga kita bisa menjadi diri kita sendiri. Perlakukan diri kita seperti kita memperlakukan sahabat-sahabat atau teman-teman baik kita. Jadi ketika kita bilang saya melakukan sesuatu, saya bertanggung jawab terhadap sesuatu, lakukan untuk kita sendiri. Saya bekerja dengan baik itu bukan untuk siapa-siapa tapi karena saya punya tanggung jawab untuk diri saya sendiri.

Managing Expectation (Handryan Syarif)

Dalam hidup semua orang pasti memiliki Expectation atau Harapan, ada banyak harapan yang ingin diraih, namun adakalanya tidak semua harapan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tak terkecuali di dunia pekerjaan, di mana sebagai seorang Leader kita mempunyai harapan yang tinggi akan hasil pekerjaan yang dilakukan oleh tim. Dan tidak ada yang lebih mengecewakan saat kita mendapatkan bahwa apa yang dikerjakan oleh tim ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, sehingga tugas yang kita berikan kepada tim dapat dieksekusi dan membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan kita:

  1. Be Clear on What You Want
    Leadermenjelaskan secara detail kepada tim apa yang menjadi harapan atau tujuan yang ingin dicapai. Dari awal leader harus mengkomunikasikan secara spesifik dan jelas apa hasil yang diinginkan, kapan harus selesai, dan bagaimana cara membuat mempresentasikan laporan akhir.
  2. Ask Clarifying Question Up Front
    Langkah berikutnya adalah dengan menanyakan kembali ke tim, seperti “Apa kamu perlu informasi atau pertanyaan lainnya?”, “Apakah ada hal lain atau bantuan yang kamu perlukan dari saya?”. Sangat penting memberikan kesempatan untukfeedback atau pertanyaan sehingga kita tahu apakah tim mengerti dan memahami apa yang kita inginkan. Bahkan apabila saat pertama kali menanyakan tidak ada pertanyaan dari tim, maka di sepanjang proses pekerjaan hal ini harus dilakukan untuk menghindari kesalahan apabila ada hal yang belum jelas dan dipahami.
  3. Avoid Managing The ‘How’
    Sebaiknya seorang leader harus menghindari Managing the How. Hal ini dikarenakan dapat menjebak seorang Leadermelakukan Micro Management. Namun ada beberapa situasi yang mengharuskan Leader untuk mengajarkan how, seperti misalnya pada saat ada karyawan baru, apabila hasil akhir pekerjaan ditentukan dari proses yang spesifik (contoh: kegiatan produksi obat). Selain menghindari Micro Management, dengan menghindari how kita dapat menumbuhkan kepercayaan diri dan keterampilan dari tim serta mungkin saja ada cara baru yang lebih inovatif dan efisien yang ditemukan untuk menyelesaikan tugas tersebut.
  4. Assist In Removing And Overcoming Obstacles.
    Tugas utama Leaderadalah membantu dalam mengatasi semua hal yang mungkin akan menghambat tercapai-nya tujuan tim. Jelaskan kepada tim bahwa kita ada untuk membantu apabila diperlukan untuk relasi antar departemen, mencari sumber daya dan memberikan info spesifik tentang hal-hal penting atau bahkan mungkin cara untuk menghadapi situasi
    atau individu tertentu dalam organisasi. Sebagai seorang Leader kita mempunyai akses lebih, koneksi, pengalaman dan juga tahu bagaimana untuk mengatasi hambatan tersebut. Di sinilah seorang Leader berperan sangat penting untuk tercapainya tujuan.
  5. Manage The Outcome.
    Hal yang harus ingat adalah, bahwa Leader-lah yang paling bertanggungjawab atas tercapainya tujuan tim bukan anggota
    tim itu. Karena itu Leaderharuslah senantiasa memberikan informasi, mengatasi hambatan, memotivasi dan menginspirasi, dan mengawasi jalannya proses pekerjaan dari tim. Ada beberapa cara untuk senantiasa mengawal suatu pekerjaan untuk berhasil yaitu Milestone Checkpoint, memantau timeline atau tahap-tahapan tugas yang sedang dan akan berjalan; 1:1 Meeting, dengan meeting ini orang akan lebih open, dan bisa saja pembicaraan tidak hanya hal pekerjaan namun ke hal lain sehingga leader dan anak buah menjadi lebih dekat, dan Team Meeting, membahas keseluruhan pekerjaan dengan semua anggota tim, yang mungkin saja dapat menghasilkan ide atau cara baru untuk mencapai tujuan.

Everybody Wants To Go To Heaven, But Nobody Wants To Die (Patria Goutama)

Quote ini mengingat kan saya bahwa setiap keinginan, ada usaha yang harus dijalankan. Setelah lebih dari setahun, weekly huddle dijalankan, sudah banyak insight yang diberikan oleh para peserta dan kebanyakan tentang leadership dan managing career.  Yang jika dirangkum kebanyakan mengajarkan kita untuk focus on add value to company, add value to yourself dan perpaduannya akan mengikuti.

Kejadian awal tahun saya bekerja di perusahaan ini, seseorang menyodorkan daftar kebutuhan bulanannya, pada saat dia meminta adjustment salary, masih melekat dengan nyata, seperti terjadi kemarin sore. Dan ada beberapa kejadian lagi sejak tahun 2010 bergabung di perusahaan ini, membuat saya akhirnya berpikir, bahwa anak-anak muda sekarang membutuhkan, bukan sekedar pengetahuan leadership tapi juga bagaimana mengatur keuangan pribadi mereka.
Didasari hal tersebut, di bawah ini beberapa tips yang mungkin berguna untuk dijalani, sambil kita meniti karir:

1.Avoid Social Presure

Jangan kita membeli sesuatu berdasarkan sesuatu yang hits atau tindakan tidak mau kalah dengan peers. Tetangga pakai baju merek XXX, saya tidak mau kalah. Apa yang kita beli harus berdasarkan apa yang kita butuhkan.

2.Are you yesterday person, todayatau tomorrow person 

Yesterday person, hidup dalam masa lalu, menyesali kejadian yang mungkin sudah bertahun tahun lewat secara berlarut larut, yang mungkin  baiknya diambil pelajarannya and move on.
Today person, tipe yang mudah lupa, dan hidup hanya untuk hari ini saja. Baru putus pacar kemarin sore, mungkin dia sudah lupa nama mantan nya.
Tomorrow person type yang selalu resah dan ingin tahu bagaimana akhirnya dan melakukan tindakan-tindakan preventive. Dalam mengatur keuangan pribadi ada baiknya jika kita sedikit memiliki concerns tentang masa depan: Investment. Untuk yang sudah berkeluarga, pikirkan jika kita punya anak dengan keinginan belajar tinggi, maukah kita “menghambat” pertumbuhan anak kita, karena selama bertahun tahun kita tidak pernah menyediakan dana untuk itu? Untuk yang belum berkeluarga, masih tinggal dengan orang tua atau bahkan nge-kos, tidak salah jika mau menumpang dengan orang tua terus, tetapi bukankah sudah waktunya kita membalas budi mereka dan menjaga mereka? Yang masih nge-kos, yakin nanti umur 50 atau pensiun mau tetap tinggal di kos-kosan?

3.Pitstop

Setiap individu, memerlukan space untuk masuk pitstop, renew yourself. Caranya bisa berbeda setiap orang. Kebiasaan memisahkan gaji saya, untuk sehari hari, untuk investasi, dan untuk pitstop, sudah saya lakukan sejak lama.

4.Give if you like, harus ikhlas dan dari hati, bukan untuk pencitraan, tapi yang paling penting, pay it forward. Balas budi seseorang dengan cara membantu yang lain.

Akhir tahun hampir tiba lagi, dan membuat kita berpikir, resolusi apa yang sudah kita buat awal tahun ini, apa yang sudah saya lalukan? Banyak sekali excuse yang kita buat untuk membenarkan pada saat resolusi kita hanya hingga   resolusi semata. Yang perlu diingat, setiap kita mencari pembenaran atau excuse, kita berhenti bertumbuh.  Setiap langkah yang kita mau ambil, karir, keuangan, dan lainnya, yang dibutuhkan bukan hanya PLAN, tapi komitmen. Tanpa Komitmen, plan hanya akan menjadi plan. Di bawah ada link video yang cukup menarik yang mungkin bisa menggelitik kita untuk berubah.

LINK – VIDEO
https://www.youtube.com/watch?v=cn_HugxlXIk

Am I Passionate Enough at Work?

“Do what you love, and love what you do.”

Quote di atas sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.  Bagi yang sudah terjun dalam pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki, hal tersebut nampak seperti ‘obvious things’, hal yang biasa. Mereka bisa merasa bahagia karena melakukan pekerjaan yang dicintai dan bisa melakukannya dengan mudah karena sesuai dengan bakat yang telah dimiliki.

Menjadi seseorang yang memiliki passion atau hasrat yang tinggi dalam hidup itu penting. Passion memberikan kita tujuan dan membawa kita merasa telah menuju the right path in life.  Tidak hanya itu, dengan passion kita merasa memiliki harapan cemerlang di masa depan. Karena itu, secara umum passionate people hidup lebih berbahagia dibanding dengan orang kebanyakan. Being passionate is not only about knowing, but also about feeling.

Namun bagaimana jika tiba-tiba di pagi hari terasa malas untuk memulai hari? Pekerjaan di kantor terbengkalai, banyak janji yang terlupakan, sudah lama tidak produktif, atau karir yang tidak lekas meningkat? Sudah melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, namun hasilnya tidak maksimal? Atau dibebani perasaan bosan yang kerap menghampiri? Bisa jadi passion sudah luntur dari diri kita.

Jika hal ini terjadi, renungkanlah dalam diri kita. Apakah yang telah kita lakukan sudah sesuai dengan apa yang harapkan. Sudahkah bakat atau talenta kita dimaksimalkan dalam pekerjaan kita. Dan yang paling penting adalah, apakah tujuan hidup kita tercapai selama kita melakukan pekerjaan itu.

Jika jawaban dan pertanyaan tersebut adalah ‘iya’, maka sebenarnya kita sedang kehilangan passion, namun sifatnya sementara. Hal ini biasa terjadi ketika kita sudah berada dalam posisi yang nyaman (comfort zone). Kita merasa talenta kita sudah maksimal dan tujuan hidup telah tercapai, seakan sudah mencapai puncak. So, what’s next?

Temukan tujuan baru, target-target baru yang harus kita kejar passionately. Jangan lantas merasa paling hebat jika bakat kita sudah terasah tajam dibanding yang lain. Karena pada dasarnya tak ada yang bisa dibandingkan dengan kita selain diri kita di masa yang lalu. Teruslah menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Temukanlah lagi motivasi atau alasan mengapa kita sudah berada di titik ini. Jadikan itu penyemangat untuk memulai perjalanan baru.

Nah, jika jawaban dari pertanyaan renungan di atas adalah ‘tidak’, maka kita memiliki dua pilihan. Yang pertama adalah berhenti. Jika apa yang sudah kita lakukan sejauh ini tidak memberikan kita kebahagiaan, waktu yang kita habiskan terbuang sia-sia. Cari dan temukan hal-hal baru yang bisa kita lakukan passionately dan membuat hidup kita lebih berarti.

Jika kita tidak dapat memilih untuk berhenti karena beberapa hal, kita bisa memilih untuk berkompromi. If you cannot do what you love, love what you do, and do it passionately. Cobalah kompromi dengan situasi, tumbuhkanlah perasaan nyaman, dan lakukan tugas kita dengan sungguh-sungguh. Temukan hal-hal menyenangkan atau berpotensi menjadikan kita bahagia. Every cloud has a silver lining.  Selalu ada hikmah di balik semua hal yang terjadi. So, have fun!